Recent Comments

Permintaan Nikel Global



Sumber: Pemberitahuan dari INSG, USGS, HDR Salva,dan ASX

Permintaan global yang stabil untuk baja stainless telah mendukung pertumbuhan permintaan nikel (Ni) global, yang telah meningkat dari 1.286 kt pada tahun 2008 menjadi sekitar 1.770 kt pada 2013. Ini merupakan Gabungan Laju Pertumbuhan Tahunan (CAGR - Compound Annual Growth Rate) 6,6% yang sehat.

Pada periode yang sama, konsumsi nikel dalam bentuk bijih di Cina meningkat dengan Gabungan Laju Pertumbuhan Tahunan (CAGR) sebesar 16,5%, yang sebagian besar didorong oleh penemuan proses Nickel Pig Iron (NPI).

China sekarang menyumbang hampir 48% dari total konsumsi nikel dunia dibandingkan dengan satu dekade yang lalu, yaitu kurang dari 10%.

Di masa depan, permintaan nikel pada tahun 2020 diperkirakan akan meningkat sebesar 4% Gabungan Laju Pertumbuhan Tahunan (CAGR) hingga mencapai 2.376 kt.

Permintaan untuk nikel di masa mendatang diperkirakan akan didorong oleh peningkatan konsumsi baja yang disebabkan urbanisasi yang cepat di sejumlah negara berkembang, termasuk China, India, Brazil, dan Afrika.



Pasokan Nikel Global

Sumber: Pemberitahuan dari INSG, USGS, HDR Salva, dan ASX

Pasokan nikel global telah tumbuh dari 1.410 kt pada tahun 2008 menjadi sekitar 1.980 kt tahun 2013 – yang menunjukkan Gabungan Laju Pertumbuhan Tahunan (CAGR) sebesar 7%.
Nikel diolah dari dua jenis bijih yang berbeda - sulfida dan oksida laterit.

Bijih nikel sulfida umumnya diproses melalui flotasi konvensional - rute pirometalurgi. Bijih laterit dapat diproses menggunakan rute hidrometalurgi luruhan asam bersuhu tinggi (HPAL - high temperature acid leach) seperti yang pada saat itu dilakukan pada proyek Goro milik Vale di Kaledonia Baru dan proyek Murrin Murrin milik Glencore di Australia.

Penemuan Nickel Pig Iron (NPI), menggunakan bijih laterit kadar rendah yang kaya besi, dapat dikreditkan para pembuat baja Cina yang menginginkan alternatif nikel murni yang lebih murah.

Pertumbuhan fasilitas pembuat NPI di Cina telah menghasilkan pertumbuhan yang besar di bidang pertambangan bijih laterit kaya yang besi, terutama di Indonesia dan Filipina. Bijih-bijih tersebut dikirimkan tanpa diproses terlebih dahulu ke Cina untuk dikonversi ke NPI dengan menggunakan tungku pembuat besi cadangan yang lebih kecil.
Pada 2013, Indonesia adalah produsen nikel terbesar, yang diikuti oleh Rusia, Filipina, dan Kaledonia Baru.

Di masa depan, pertumbuhan pasokan diperkirakan tidak sesuai dengan pertumbuhan permintaan, terutama karena adanya larangan ekspor bahan mentah (belum diolah) di Indonesia.

Pada tahun 2020, pasokan nikel global diperkirakan hanya akan tumbuh sebesar 2% CAGR dan diperkirakan akan mencapai 2.348 kt.





Proyek Nikel Global


Sumber: Pemberitahuan dari INSG, USGS, HDR| Salva, dan ASX

Larangan ekspor bahan mentah Indonesia telah menghapus hampir 30% produksi tambang nikel dari pasar global. Pasokan nikel dunia juga terganggu akibat adanya kerusuhan di Ukraina dan Rusia baru-baru ini.

Pada 2013, sumber nikel Cina sebesar hampir 400kt berasal dari Indonesia, yang merupakan bijih yang dikirimkan secara langsung. Sekarang, sumber tersebut harus didapatkan dari tempat lain dan, menurut pendapat HDR Salva, Cina akan merasa sangat sulit menggantikan kehilangan volume ini dari negara lain, seperti Filipina dan Kaledonia Baru, dalam jangka pendek dan menengah.
Indonesia cenderung melihat sebuah kenaikan dalam kegiatan konstruksi proyek-proyek NPI. Proyek Sulawesi milik Grup Tsingshan adalah yang paling maju dan diharapkan akan dikerjakan pada awal 2015.

Menurut perkiraan resmi, direncanakan dibangunnya 40 pabrik NPI baru untuk Indonesia. Namun, kebanyakan berada cukup jauh di pedalaman dan memiliki infrastruktur yang terbatas. Investasi pada pabrik dan infrastruktur tersebut terhambat oleh hukum Indonesia yang membatasi kepemilikan asing hanya sampai 49%.

Proyek yang terletak di dekat pantai yang dilengkapi dengan infrastruktur diharapkan dapat dilakukan karena Indonesia cenderung mengkonsumsi 275kt nikel dalam NPI pada tahun 2020.

Di Filipina, para produsen saat ini cenderung untuk memperluas proyek-proyek mereka. Perusahaan-perusahaan, termasuk Surigao Integrated Resources, Carrascal, SR Metals, dan St. Cruz sudah mulai memikirkan untuk melakukan ekspansi.

Kenaikan harga nikel sebesar 30% telah membuat beberapa proyek sulfida marginal sekarang layak secara ekonomis. Norlisk juga meningkatkan Proyek Norilsk/ARM Nkomati-nya di Afrika Selatan. Demikian pula, First Quantum sedang mengembangkan proyek Enterprise di Zambia.

Proyek-proyek nikel laterit kemungkinan bermunculan di PNG, Kepulauan Solomon, dan Guatemala dalam waktu dekat.


Neraca Nikel Global


Sumber: Pemberitahuan dari INSG, USGS, HDR Salva, dan ASX

Larangan ekspor bahan mentah di Indonesia telah mengubah seluruh dinamika pasokan dan permintaan pasar nikel.

Harga nikel telah meningkat lebih dari 30% sejak diperkenalkannya larangan ekspor, yang melebihi semua komoditas lainnya.

Neraca pasokan dan permintaan nikel selama Semester 1 (H1- First Half) 2014 diperkirakan tetap surplus akibat penggunaan bahan yang ditimbun. Stok nikel  di sisi pelanuhan Cina diperkirakan akan habis selama semester 2 (H2) 2014.

Para produsen NPI Cina akan perlu menemukan sumber-sumber bahan mentah baru dari Filipina, Kaledonia Baru, dan PNG.

Menurut HDR Salva, nikel diperkirakan akan tetap defisit dalam jangka pendek dan menengah.

Namun, terdapat kemungkinan bahwa defisit dapat dikurangi melalui peningkatan produksi di Filipina bersamaan dengan proyek-proyek baru di PNG dan Guatemala, pembangunan fasilitas pengolahan NPI di Indonesia, dan pertumbuhan proyek bijih sulfida sedikit demi sedikit.

Ke depan, kondisi harga nikel saat ini diharapkan akan berkelanjutan. Hal ini menjadikan nikel komoditas sebuah komoditas YANG NAIK SECARA MODERAT.


Prospek

Indonesia akan terus menjadi pendorong utama harga nikel. Mr. Potanin, CEO Norilsk, mengatakan: “Saya melihat Indonesia sebagai penggerak harga nikel utama untuk saat ini”. Setiap perubahan dalam kebijakan pemerintah akan memiliki dampak yang signifikan pada harga.



Sifat- Sifat batubara



Sifat-Sifat Batu Bara dan Pengaruhnya terhadap Ketel Uap (Boiler)

Pankaj Ekbote
NTPC Ltd.




 Pengaruh Sifat-Sifat Batu Bara

·         Transportasi Batu Bara
·         Penyimpanan Batu Bara
·         Desain Boiler
·         Kinerja Pembakaran
·         Kinerja Penggilingan
·         Kinerja Boiler (kerugian)
·         Slagging[1]
·         Kinerja ESP
·         Usia Komponen-Komponen Boiler




Sifat-Sifat Batu Bara

·         Sifat batu bara dievaluasi dengan metode yang berbeda-beda.
·         Metode yang paling umum digunakan adalah analisis Proximate (Proksimat) dan Ultimate batu bara.
·         Analisis Proksimat memberikan Uap Air, Abu, dan Zat Volatil (Volatile Matter), sedangkan Karbon Tetap ditemukan dengan perbedaan.
·         Analisis Ultimate memberikan komposisi unsur dari batu bara.
·         Metode lain seperti analisis Macarel juga digunakan untuk pengklasifikasian batu bara dan pengevaluasian sifat batu bara.
·         Karakteristik-karakteristik fusi pada Abu diperkirakan dari Suhu Deformasi Awal, Suhu Hemisferikal (Hemispherical) dan Suhu Fusi pada abu.
·         Analisis oksida abu umumnya digunakan untuk analisis komposisi abu.
·         Analisis abu digunakan untuk menggolongkan potensi terjadinya ampas bijih (slagging) dan pemburukan (fouling) pada batu bara di boiler.


Hal-hal yang harus selalu disadari oleh seorang Insinyur Boiler......

  • Karbon tetap
adalah bahan bakar padat yang tersisa dalam tungku setelah zat volatil didistilasi. Karbon tetap sebagian besar terdiri dari karbon, tetapi juga berisi sejumlah hidrogen, oksigen, sulfur, dan nitrogen yang tidak terhalau dengan gas-gas. Karbon tetap memberikan perkiraan kasar nilai kalori pada batu bara
  • Zat Volatil (Volatile Matter)
    • Zat volatil adalah metana, hidrokarbon, hidrogen, dan karbon monoksida, serta gas tak mudah terbakar seperti karbon dioksida dan nitrogen yang ditemukan dalam batu bara. Dengan demikian, zat volatil merupakan indeks dari adanya bahan bakar gas. Rentang zat volatil pada umumnya adalah 20 sampai 35%.
    • Meningkatkan panjang api secara proporsional, dan memudahkan pembakaran batu bara.
    • Mengatur batas minimum pada tinggi dan volume tungku.
    • Memengaruhi aspek kebutuhan udara sekunder dan distribusi.
    • Memengaruhi dukungan minyak sekunder
  • Kemampuan batu bara untuk digiling
Memengaruhi kinerja penggilingan

Mengapa Insinyur Boiler ...... (lanjutan) .....

Ø  Kandungan Abu
·         Abu adalah pengotor yang tidak menyulut api. Pada umumnya berkisar antara 5 sampai 40%.
·         Mengurangi kapasitas penanganan dan pembakaran.
·         Meningkatkan biaya penanganan.
·         Mempengaruhi efisiensi pembakaran dan boiler
·         Menyebabkan terjadinya arang besi (clinkering) dan ampas batu bara (slagging)
Ø  Kandungan uap air
·         Uap air batu bara harus diangkut, ditangani, dan disimpan. Karena menggantikan zat yang mudah terbakar, maka uap air mengurangi kandungan panas per kg pada batu bara. Umumnya berkisar antara 0,5 hingga 10%
·         Meningkatkan kehilangan panas akibat penguapan dan pemanasan berlebih dari uap
·         Membantu, untuk membatasi, denda yang mengikat
·         Membantu perpindahan panas radiasi
Ø  Kandungan sulfur (BUKAN PADA ANALISIS PROKSIMAT)
·         Secara normal, umumnya berkisar antara 0,5 hingga 0,8%
·         Mempengaruhi kecenderungan clinkering dan slagging
·         Merusak cerobong asap dan peralatan lainnya, seperti pemanas udara dan alat penghemat energi
·         Membatasi suhu gas pada pipa keluaran


Seperti Apa Batu Bara India dan Internasional
Karakteristik
India
Indonesia
Afrika Selatan
Uap air total %
10 - 20
10-30
8
Abu %
25 - 50
10-15
15-17
Zat Volatil %
16 - 30
25-35
23
Karbon tetap %
24- 40
45
51
Karbon %
30 - 55
60
70-80
Hidrogen %
2 - 4
4.5
4-5%
Nitrogen %
0.7- 1.15
1
2-2.5%
Sulfur %
0.3 - 0.8
sekitar 1%
hingga 1%
Oksigen %
4-8
12
8-9%
GCV kcal/kg
2800-5000
5500
6500
Indeks abrasif
40-60


Suhu Pelunakan Abu
di atas
1300C
1350oC
13000C
HGI
50-110
Sekitar 50
Sekitar 50




Bagaimana Desain Boiler Dipengaruhi oleh Batu Bara

Ø  Berikut adalah aspek utama yang dipertimbangkan untuk Desain Boiler
·         Rasio FC / VM
·         Abu per juta Kkal
·         Suhu Deformasi Awal
·         Karakteristik Slagging pada Abu
·         Karakteristik Erosi pada Abu

Bagaimana Desain Boiler Dipengaruhi oleh Batu Bara

  • Bagian konvektif dari boiler terdiri dari bundel pipa-pipa yang besar yang diatur dalam jalur gas untuk mengekstraksi panas dari gas buang.
  • Erosi akibat abu adalah pertimbangan utama dalam bagian ini.
  • Kecepatan maksimum yang diizinkan sebanding dengan kuantitas abu dan sifat abrasif pada abu.
  • Silika dan alumina, yang sangat sering ditemui dalam batu bara India, bersifat sangat abrasif sehingga kecepatan maksimum yang diizinkan terbatas.
  • Hilangnya logam akibat erosi juga tergantung pada variasi spasial pada kecepatan.
  • Parameter batu bara yang penting untuk kecepatan maksimum yang diizinkan
  • Kandungan abu
  • Silika abu (terutama kuarsa alfa) dan alumina

Bagaimana Desain Boiler Dipengaruhi oleh Batu Bara

Ø  Tujuan dari sistem pembakaran batu bara adalah untuk memungkinkan
·         Pembakaran partikel batu bara yang sempurna
·         Membatasi pembentukan polutan seperti NOx
Ø  Sifat-Sifat Batu Bara yang Memengaruhi Pembakaran
·         Rasio Bahan Bakar (Karbon Tetap/Zat Volatil) umumnya digunakan untuk mengevaluasi kemampuan terbakar pada batu bara.
·         Analisis yang lebih maju bergantung pada analisis macarel dan reflektansi vitrinit untuk kinerja mengevaluasi pembakaran
Ø  Pengaturan Pemanasan
·         pemanasan Dinding
o   Dinding Depan
o   Pemanasan Depan dan Belakang
·         Pemanasan Tangensial
·         Pemanasan W


Ukuran Tungku Pembakaran dan Batu Bara

  • Tingkat Pelepasan Panas Volumetrik
  • Waktu Tinggal Tungku Pembakara
  • Rencana Areanya Net Heat Input per Unit
  • Tingkat Pelepasan Panas Zona Pembakar
  • Faktor Pendinginan Tungku Pembakaran
  • Suhu Gas Keluaran Tungku Pembakaran (Furnace Exit Suhu Gas/FEGT)

Semua parameter di atas dipengaruhi oleh sifat-sifat batu bara, terutama karakteristik slagging dan fouling pada batu bara.

Net Heat Input (NHI) adalah GCV pada bahan bakar yang dikurangi dengan kehilangan radiasi, kehilangan akibat bahan mudah terbakar yang tidak terbakar, uap air di udara, panas laten pada uap air dalam bahan bakar & yang terbentuk oleh pembakaran H2 dalam bahan bakar ditambah sejumlah panas dari udara pembakaran (udara primer dan sekunder), semua di atas suhu acuan.

Tungku Pembakaran

Ø  Tingkat Pelepasan Panas Volumetrik
·         Tingkat Pelepasan Panas Volumetrik adalah Panas yang dibebaskan per satuan volume di dalam zona tungku pembakaran (hingga pesawat FEGT)
·         Nilai maksimum tergantung pada karakteristik bahan bakar dan abu.
·         Namun, untuk unit-unit besar, ini bukanlah kriteria yang membatasi.

Ø  Waktu Tinggal Tungku Pembakaran
·         Waktu tinggal tungku pembakaran minimum diperlukan untuk menjamin pembakaran partikel bahan bakar yang sempurna.
·         Waktu tinggal tungku pembakaran dihitung dari pembakar atas ke keluaran tungku pembakaran (inlet dari Platen Heat Exchanger)
·         Pilihan waktu tinggal tungku pembakaran tergantung pada karakteristik dan reaktivitas pembakaran bahan bakar.
·         Rasio bahan bakar memberikan indikasi yang baik dari reaktivitas bahan bakar.

Tungku Pembakaran

Meskipun pembakaran partikel dan karakteristik pembakaran batu bara adalah kriteria desain utama, pertimbangan desain utama untuk ukuran tungku dan desain bagian konvektif adalah untuk meminimalisir masalah-masalah akibat slagging abu, fouling, dan erosi.


 







Slagging Bitumen Rendah/Menengah
 

SlaggingSub Bitumen Tinggi 
 

Slagging lignit Parah

 


 
Ukuran Tungku Pembakaran







Ø Rencana Area nya Net Heat Input ( NHI ) per Unit pada Tungku

·         Rencana Areanya Net Heat Input (NHI) per unit pada tungku pembakaran atau Rencana Are  Pemuatan adalah jumlah panas yang dilepaskan per unit bagian lintang tungku pembakaran.
·         Rencana Areanya Net Heat Input (NHI) per unit pada tungku pembakaran mencerminkan tingkat suhu dalam tungku tersebut. Rencana Areanya NHI yang tinggi per unit meningkatkan stabilitas api tetapi juga meningkatkan kemungkinan slagging di dalam tungku pembakaran.
·         Rencana  Area Pemuatan yang diijinkan tergantung pada kapasitas boiler dan suhu pelunakan (softening temperature/ST) dan komposisi abu dalam batu bara.
·         Rencana  Area Pemuatan umumnya disimpan dalam kisaran 3,9-4,9 Mkcal/m2-hr .
·         Kandungan silika dan alumina yang tinggi pada abu dalam batu bara India mengurangi kemungkinan slagging. Namun, kadar abu yang tinggi menimbulkan kemungkinan risiko selama operasi.
·         Sebuah pendekatan konservatif diperlukan untuk menghindari kemungkinan pembentukan ampas karena dapat sangat membahayakan.

Ø Burner Zone Heat Release Rate[2] (BZHRR)

·         BZHRR adalah rasio panas yang dipasok ke tungku pembakar ke area permukaan zona pembakar antara pembakar atas dan bawah.
·         BZHRR mewakili tingkat suhu dan perubahan panas puncak di wilayah pembakar.
·         Pilihan BZHRR sangat tergantung pada karakteristik slagging pada batu bara.
·         BZHRR juga memengaruhi pembentukan NOx termal dalam tungku pembakar.

Bagian-Bagian yang Bertekanan

Ø  Material
·         Korosi dari sisi bahan bakar pada bagian-bagian yang bertekanan adalah perhatian utama pada batu bara yang yang memiliki sulfur atau natrium dan klorin yang tinggi dalam abu.
·         Korosi dari sisi bahan bakar bukan merupakan perhatian utama pada batu bara India.

Ø  Pengaturan
·         Di atas IDT, endapan ampas (slag) yang menjembatani seluruh pipa-pipa merupakan kendala utama.
·         Di bawah IDT, Pemburukan (fouling) pada pipa-pip  dan kemudahan pembersihan menentukan sudut kemiringan minimum antara sambungan2.
·         Karakteristik slagging dan fouling abu sangat tergantung pada komposisi abu.


Kualitas Batu Bara dan Efisiensi Boiler


Ø  Kerugian-kerugian dari Boiler

Ø  Kehilangan Gas Kering tergantung pada
·         Suhu Gas Keluaran
·         Kelebihan Udara
Ø Kerugian akibat Uap Air dan Hidrogen dalam batu bara
·         Uap air dalam batu bara
·         Setiap kenaikan uap air 1% mengurangi Efisiensi Boiler sebesar 0,1-0,2%
Ø Hidrogen dalam Batu Bara
·         Setiap kenaikan kandungan hidrogen 1% mengurangi efisiensi boiler sebesar 1,5-2%
Ø Panas sensibel akibat abu
·         Setiap kenaikan kandungan abu 1% mengurangi efisiensi boiler kira-kira sebesar 0,02%.


Desain Komponen-Komponen Lainnya

Ø  ESP
·         Ukuran ESP terutama tergantung pada kandungan abu pada batu bara
·         Uap Air dan Hidrogen dalam batu bara juga berperan dalam ukuran ESP, karena cenderung meningkatkan volume gas.
·         Uap Air dalam gas buang mengurangi resistivitas debu sehingga meningkatkan koleksi.
·         Konstituen abu seperti Na dan sulfur dalam batu bara mengurangi resistivitas abu dan dengan demikian meningkatkan koleksi

Ø  FGD
·         Batu bara India umumnya rendah sulfur
·         Namun, berkat GCV rendah, emisi SO2 dari Pembangkit Listrik India 1500-1800 mg/Nm3, yang jauh di atas norma-norma umum di Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat
·         FGD mungkin diperlukan dalam kasus batu bara dengan tingkat belerang tinggi


Pengaruh pada Penggilingan Batu Bara
  • SUHU SALURAN KELUAR PADA PENGGILINGAN
  • AMPER MOTOR PADA PENGGILINGA
  • ALIRAN UDARA PADA PENGGILINGAN
  • USIA KOMPONEN TERPAKAI
  • PENURUNAN TEKANAN PENGGILINGAN
  • HASIL PENGGILINGAN
  • KEHALUSAN PECAHAN PENGGILINGAN
  • TINGKAT PENOLAKAN PENGGILINGAN



KURANGNYA KAPASITAS ATAU KONSUMSI DAYA YANG TINGGI

  • UAP AIR YANG TINGGI
  • GCV YANG RENDAH
  • UKURAN BATU BARA MENTAH YANG MENINGKAT
  • PENGGILINGAN YANG TERLALU HALUS
  • KEDALAMAN DASAR YANG BERLEBIHAN
  • KESALAHAN INSTRUMEN


PENOLAKAN PENGGILINGAN YANG BERLEBIHAN

  • PERUBAHAN DALAM KEMAMPUAN BATU BARA UNTUK DIGILING, SULFUR DAN ABU
  • PERBANDINGAN BATU BARA/UDARA YANG TIDAK TEPAT
  • PENGAUSAN KESENJANGAN LEHER (THROAT GAP)

PENGGILINGAN KASAR
  • PERUBAHAN DALAM KEMAMPUAN BATU BARA UNTUK DIGILING
  • UAP AIR YANG TINGGI
  • HASIL PRODUKSI YANG MENINGKAT
  • PENGATURAN PENGELOMPOKAN
  • PEMAKAIAN PENGGILINGAN





SUHU BATU BARA / UDARA YANG RENDAH

  • UAP AIR YANG TINGGI
  • SUHU SALURAN MASUK PA YANG RENDAH
  • LEWATNYA UDARA DINGIN
  • SUHU SALURAN MASUK A.H YANG RENDAH
  • TIDAK TERSEDIANYA SCAPH

PEMBAKARAN PADA PENGGILINGAN

  • VOLATIL YANG TINGGI
  • UAP AIR
  • SUHU BATU BARA/UDARA YANG RENDAH
  • KESEIMBANGAN LINTASAN PEMBAKAR

ESP

·         Untuk efisiensi pengumpulan yang ada, ukuran ESP meningkat seiring adanya peningkatan abu batu bara akibat peningkatan beban debu pada saluran masuk.
·         Pengendapan abu terbang bertambah seiring meningkatnya kandungan uap air gas buang.
·         Pengendapan abu terbang bertambah seiring meningkatnya kandungan sulfur batu bara.
·         Pengendapan abu terbang bertambah seiring meningkatnya perbandingan dasar abu terbang/asam dan peningkatan Na2O dan Li2O dalam abu.
·         Efisiensi pengendap bertambah seiring meningkatnya ukuran partikel abu terbang yang dipengaruhi oleh ukuran PF, karakteristik kemampuan melebur pada abu batu bara dan kondisi pembakaran.
 PF yang lebih kasar cenderung menghasilkan ukuran rata-rata partikel abu terbang yang lebih besar (atau diameter median massa).

SIFAT BATU BARA
PENGARUH PADA EMISI PARTIKULAT
Beban Debu
(kandungan abu)
Bertambahnya 1% beban debu akan meningkatkan emisi sebesar 1%
Aliran Gas
(nilai kalor, analisi pokok, perbandingan C/H, tingkat uap air)

Bertambahnya 1% aliran gas per unit pelepasan panas akan meningkatkan emisi sebesar 1,5%
Resistivitas abu
Sebuah perubahan resistivitas pada 1 urutan besarnya akan menyebabkan peningkatan emisi dengan faktor 2
Sulfur
Kecenderungan umum untuk mengurangi resistivitas sebagai peningkatan belerang, mungkin satu urutan besarnya per 1% perubahan sulfur.
Di bawah 1% belerang, resistivitas didominasi oleh faktor-faktor lain.






































[1] Pembentukan ampas
[2] Tingkat Pelepasan Panas pada Zona Pembakar